BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 05 November 2009

Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda

Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda
Oleh: Haya Aliya Zaki

Judul buku : Tsunami! (de Dag van de Golven)
Penulis : Corien Oranje
Alih bahasa : Indira Ismail
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 168 hlm.

Selalu saja ada air mata yang menetes ketika menelaah karya tentang tragedi tsunami. Baik itu berupa cerpen, novel, puisi, lukisan, atau bentuk karya seni lainnya. Tsunami salah satu musibah mahadahsyat yang pernah menimpa negeri kita. Bisa dikata, bumi Serambi Mekkah yang paling terkena dampaknya. Pada 26 Desember 2004, retakan gempa berulang dan amuk gelombang laut itu menewaskan ratusan ribu penduduk Aceh. Sementara penduduk yang masih bertahan, didekap trauma, gangguan mental serta emosional. Tak terhitung pula jumlah kerugian materi. Aceh luluh lantak sungguh oleh tsunami.

Diakui, tsunami menginspirasi banyak orang untuk menuangkan karya, dalam bentuk apa pun itu. Seniman asal Aceh seolah berlomba. Tak terhitung karya yang lahir dengan latar belakang tragedi tsunami. Namun ternyata, inspirasi tsunami Aceh tak hanya bersemayam dalam lubuk seniman lokal dan sekitarnya. Ia juga menarik perhatian Corien Oranje (Corien), seorang penulis asal Belanda. Mengesankan, Corien menorehkan sketsa tragedi tsunami dari kacamatanya sendiri.

Tsunami! berjudul asli “de Dag van de Golven” (The Day of The Waves). Novel ini menceritakan persahabatan 2 orang anak Aceh bernama Dewi dan Yensi. Seperti anak-anak pada umumnya, hari-hari mereka penuh dengan suka ria. Tak ada beban berarti. Ayah mereka bermatapencaharian nelayan. Tempat bermain mereka adalah pantai. Hidup Dewi dan Yensi sangat akrab dengan laut.

Dan tiba di pagi naas, Dewi sedang menjaga warung di rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari dalam bumi. Orang-orang panik dan lari membabi buta menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, air laut naik! Dinding-dinding air luar biasa tinggi melahap habis tanah kelahiran Dewi. Semua lebur! Semua musnah!

Dinding air memang usai menerjang namun gempa masih susul-menyusul. Dewi berhasil menyelamatkan diri. Ia didera luka dan ketakutan. Keluarganya entah dimana. Semua bagai mimpi! Rasanya baru saja kemarin ia dan Yensi menyalakan api unggun dan memanggang ikan di tepi pantai. Kini kenyataan pahit seolah menghantui.

Bersama penduduk Aceh lain, Dewi memilih berdiam sementara di masjid. Beruntung ia jumpa dengan Yensi dan Agus, abang Yensi. Mereka membantu Dewi mencari keluarga Dewi.

Dewi berhasil menemukan ayah, ibu, dan Erna. Tapi Nova, adik kecilnya, sepertinya harus diikhlaskan kembali ke pangkuan Sang Khalik. Dewi menggenggam lara. Hari-harinya tak akan sama lagi. Rumah rata dengan tanah. Sekolah, tempat bermain, dan Nova. Bagi kanak-kanak seperti Dewi, semua terlalu berat untuk dipahami. Namun Dewi tetap bersyukur. Nasibnya lebih baik daripada Yensi dan Agus. Keluarga mereka tak diketahui nasibnya.

Dewi dan Yensi berjuang menata kembali hari-hari mereka. Mereka bahu-membahu membangun rumah. Mereka mengikuti program-program rutin yang diadakan relawan untuk anak-anak Aceh. Dan Allah berkehendak lain. Walau telah kehilangan Nova, Dewi dianugerahi anggota keluarga baru yakni, Yensi dan Agus! Dulu mereka bersahabat, sekarang menjadi saudara.

Tsunami! dituturkan dengan bahasa yang ringan dan lancar. Corien pintar mengaduk emosi pembaca. Mengikuti alur cerita tsunaminya, perasaan pembaca seolah tercabik-cabik dan akhirnya, tak kuasa menahan jatuh air mata. Terjemahan novel ini pun dinilai luwes dan tidak membosankan. Dalam alur cerita, Corien mendeksripsikan situasi dan kondisi tsunami di Aceh dengan baik. Khusus untuk keperluan penulisan naskah, beberapa minggu setelah tsunami Aceh, ia datang ke Aceh dan melakukan survei disana.

Meski ringan, Tsunami! sarat pesan. Setelah bencana tsunami, banyak sekali hal yang harus dibenahi. Kalau semua pihak tidak saling dukung, mungkin Aceh akan sulit bangkit. Dalam novel ini diceritakan mencuatnya berbagai aksi solidaritas peduli korban tsunami Aceh. Bantuan mengalir deras, meski kadang distribusi terkendala oleh sulitnya transportasi ke daerah tujuan.

Tenaga-tenaga relawan asing antara lain dari Australia dan Amerika, menunaikan tugas tanpa pamrih. Salah satu tokohnya disini adalah Lexie, relawan asal Australia. Ia tulus membantu proses penyembuhan sakit ayah Dewi. Di tenda penampungan, ia menyusun sejumlah agenda untuk memulihkan trauma anak-anak secara bertahap. Mulai dari menggambar, menyanyi, mengumpulkan foto, bahkan piknik ke pantai! Peran jurnalis juga sangat penting. Mereka aktif menyiarkan kabar melalui koran, radio, dan televisi.

Lalu, mengapa novel ini ditulis dari sudut pandang anak-anak? Karena melalui novel ini, Corien ingin anak-anak ‘bersuara’ tentang bencana, kehilangan, dan trauma. Dewi dan Yensi, tokoh sentral dalam novel ini, berusaha mewakili ‘suara’ anak-anak tersebut. Di Aceh, Corien berkomunikasi dengan anak-anak yang mengalami bencana. Banyak anak kehilangan keluarga mereka. Mereka jelas terguncang. Menurut cerita Corien, salah satu anak, pada waktu-waktu tertentu, terlihat menyendiri di atas perahu yang tertambat di dermaga. Anak itu tak pernah mau didekati oleh siapa pun. “Berdasarkan pengamatan saya di Aceh, saya melihat hamparan cinta tanpa pamrih dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak,” demikian papar wanita berambut merah ini. (www.corienoranje.nl). Tersurat dalam novel ini, Corien berusaha meyakinkan kepada korban tsunami (terutama anak-anak) agar jangan pernah berhenti berharap serta selalu optimis menatap masa depan. Dan masa lalu biar menjadi masa lalu. “Semua memang tidak sama seperti dulu lagi. Tapi akan baik. Akan baik. Akan kembali baik.” (hlm. 157)
Beberapa foto tanah Aceh setelah diterjang tsunami dan aktivitas anak-anak Aceh, ditayangkan di halaman akhir novel. Fakta data diimbuhkan untuk memberi penjelasan. Sangat informatif.

Kekurangan Tsunami! terletak pada kosakata percakapan penduduk Aceh sehari-hari. Tak ada logat Aceh atau istilah dalam bahasa Aceh yang bisa dicicipi. Misal: orang Aceh biasanya mengatakan ‘keudee’ bukan ‘warung’ dan ‘kereta/honda’ bukan ‘motor’. Identitas lokal yang akrab di telinga penduduk Aceh seperti agam, inong, abu, mak, adoe, dan lain-lain, juga tidak tercantum. Tentu hal ini mengurangi kentalnya rasa etnik lokal Aceh novel Tsunami! di hadapan pembaca. Meski demikian, kekurangan tadi lumayan tertutupi oleh alur dan plot yang cantik.

Corien telah menerbitkan lebih dari 30 judul buku. Semuanya berbahasa Belanda. Tsunami! adalah buku pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Corien kini menetap di Jakarta bersama suami dan keempat anaknya.

0 komentar: