BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 05 November 2009

Cerita Sengsara Putri Cina

Cerita Sengsara Putri Cina
Oleh: Ignatius Haryanto

Judul buku: Putri Cina
Penulis: Sindhunata
Terbit: September 2007
Tebal: 302 halaman

Putri Cina adalah sosok tanpa nama. Ia hadir dalam sejarah manusia Jawa. Dalam zaman yang berbeda-beda. Hingga pada masa Orde menjelang senja. Awalnya adalah legenda Putri Campa. Lalu lahir kembali dalam sosok Putri Cina.

Putri Cina adalah riwayat duka. Ia lahir di Jawa, tapi ia punya akar di Negeri Cina. Identitasnya ditarik-tarik kutub dua. Ia merasa Jawa. Tapi orang lain tetap menganggapnya Cina. CIna-Jawa tak pernah lebur sepenuhnya. Orang lain memandang dengan cinta. Orang lain ikut mendamba. Orang lain memandangnya penuh curiga. Dan akhirnya ia jadi korban kambing-domba. Ia korban nafsu para raja, dan juga para penguasa.

Putri Cina merasa gundah. Raden Patah, Raja Demak, keluar dari kandung rahimnya. Raja Brawijaya adalah suaminya. Biar begitu, Raden Patah melawan ayahnya. Majapahit runtuh, Demak mengemuka. Putri Cina berduka. Ia seolah telah melahirkan anak durhaka.

Putri Cina hanya bisa berdoa. Ia rasa ironi hidupnya. Cina yang mengikat, cinta yang memisahkan. Manusia mulia, usahakan yang pokok dalam hidupnya. Begitu K'ung Tzu berkata. Orang harus hormat pada orangtua, serta saudara-saudara yang lebih tua.

Tengkar telah ada sejak zaman para dewata. Dewata pun bak manusia. Punya nafsu untuk kuasa. Kuasa pada dunia, atau kuasa pada wanita. Sifat raja-raja Jawa tak beda dari para dewata. Tengkar adalah buahnya. Lumat dunia, porak poranda akibatnya.

Dalam banyak tengkar di Jawa, orang Cina kerap jadi korbannya. Dari zaman raja-raja Jawa. Masuk zaman Belanda. Hingga pada saat tentara penuh kuasa. Inikah takdir orang Cina?

Ini ketidakadilan. Putri Cina bersuara. Tapi sejarah tak menjawab apa-apa. Mungkin saatnya kita dengar isi legenda. Legenda Putri Cina, yang terbang ke angkasa. Kupu-kupu bentuk rupanya.

Inilah sifat orang Cina. Senang pada surga, juga senang pada dunia. Di antaranyalah ia temui bahagia. Tapi banyak orang Cina, hanya pikir niaga dan harta. Talenta lain dalam hidupnya jadi mereka lupa. Atau mungkin justru sangat disengaja. Tak diduga, itu jadi titik lemahnya. Ia mudah dimusuhi tetangga. Saat tengkar meledak, ia mudah jadi korbannya. Korban kambing anak domba.

Jalan bahagia adalah sederhana. Itu Tao Yang Ming punya kata-kata. Tapi banyak orang Cina cuma pikir harta dan kaya. Padahal Han San pun berkata: Harta perlu dibagi dengan sesame. Tiada berbagi, ikut binasa.

Giok Tien adalah pemain sandiwara. Anak Cina jadi lelakon utama. Penonton mencinta, termashyurlah ia. Ia hidup di Medang Kemulan jadi Negara. Raja baik jadi raja durjana. Tadinya dicinta, jadi dicerca. Raja loba nafsu kuasa. Rakyat minta raja turun takhta.

Bersiasat berkelit sang raja. Hindari laku turunkan wibawa. Nyaman hidup di atas tahta. Jangan hentikan sekarang juga. Ia ingin berjaya selama-lamanya.

Giok Tien disunting tentara biasa. Setyoko jadi suaminya. Kemudian hari Setyoko jadi orang Istana. Senapati Gurdo Paksi gelarnya, tangan kanan Medang punya raja.

Raja ingin tenangkan rakyatnya. Namun, dengan siasat serta tipu daya. Gurdo Paksi tak terima. Raja ingin korbankan orang Cina. Senapati ingat istri Cinanya yang dicinta. Patih lain ambil alih perkara. Mudah sulutkan murka para warga. Marah pada raja jadi marah pada Cina.

Usir dan baker. Jarah dan perkosa. Itu laku yang diterima. Orang Cina jadi sengsara. Banyak yang lalu kabur ke negeri Singa. Negara tetangga yang lebih lindungi warga. Dua kakak Giok Tien ikut binasa. Giok Tien pun hampir diperkosa. Giok Tien minta perlindungan raja. Raja malah lampiaskan nafsu pada dirinya.

Senapati Gurdo Paksi marah tak terima. Ia tangkap basah kelakuan bejat raja. Raja takut aibnya terbuka. Raja turun takhta, Senapati jadi orang biasa. Tapi noda sudah tertoreh di sana. Di tubuh dan hati orang-orang Cina.

Akhir cerita tak selalu bahagia. Giok Tien dan Setyoko juga jadi binasa. Akibat patih cemburu buta. Mati terpanah mereka berdua. Giok Tien tak teraih, patih jadi murka. Cinta jadi angkara. Ironi hidup yang biasa. Tapi ada keindahan yang tersisa. Raga Giok Tien dan Setyoko lenyap begitu saja. Dua kupu-kupu jadi gantinya. Terlarangnya cinta, tak hilangkan arti cinta. Cinta bisa berubah rupa. Jadi, apa yang tak terduga oleh manusia.

Buku ini sungguh engak dibaca. Dalam ceritanya. Banyak nilai yang ada di sana. Memadu sejarah dan legenda. Juga filsafat dan falsafah. Silakan percaya atau tidak. Tapi nasib putri Cina benar ada. Nasib ini jadi legenda. Tapi Putri Cina terus menolak takdirnya. Tak sudi jadi keranjang sampah para penguasa. Tumpah amarah pada kaumnya, saat raja gelap mata.

Sejarah harus diubah. Masa depan adalah cerah. Masa depan harus jadi berkah. Buku ini tak tawarkan jalan mudah. Tapi buku ini sungguh menggugah. Penulis pujangga berpunya buah. Bernilai di antara buku melimpah ruah. Banyak nilai yang bisa dikunyah: Jadi manusia luhur tidak mudah, orang luhur hatinya rendah.

Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda

Sketsa Tragedi Tsunami di Mata Penulis Belanda
Oleh: Haya Aliya Zaki

Judul buku : Tsunami! (de Dag van de Golven)
Penulis : Corien Oranje
Alih bahasa : Indira Ismail
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 168 hlm.

Selalu saja ada air mata yang menetes ketika menelaah karya tentang tragedi tsunami. Baik itu berupa cerpen, novel, puisi, lukisan, atau bentuk karya seni lainnya. Tsunami salah satu musibah mahadahsyat yang pernah menimpa negeri kita. Bisa dikata, bumi Serambi Mekkah yang paling terkena dampaknya. Pada 26 Desember 2004, retakan gempa berulang dan amuk gelombang laut itu menewaskan ratusan ribu penduduk Aceh. Sementara penduduk yang masih bertahan, didekap trauma, gangguan mental serta emosional. Tak terhitung pula jumlah kerugian materi. Aceh luluh lantak sungguh oleh tsunami.

Diakui, tsunami menginspirasi banyak orang untuk menuangkan karya, dalam bentuk apa pun itu. Seniman asal Aceh seolah berlomba. Tak terhitung karya yang lahir dengan latar belakang tragedi tsunami. Namun ternyata, inspirasi tsunami Aceh tak hanya bersemayam dalam lubuk seniman lokal dan sekitarnya. Ia juga menarik perhatian Corien Oranje (Corien), seorang penulis asal Belanda. Mengesankan, Corien menorehkan sketsa tragedi tsunami dari kacamatanya sendiri.

Tsunami! berjudul asli “de Dag van de Golven” (The Day of The Waves). Novel ini menceritakan persahabatan 2 orang anak Aceh bernama Dewi dan Yensi. Seperti anak-anak pada umumnya, hari-hari mereka penuh dengan suka ria. Tak ada beban berarti. Ayah mereka bermatapencaharian nelayan. Tempat bermain mereka adalah pantai. Hidup Dewi dan Yensi sangat akrab dengan laut.

Dan tiba di pagi naas, Dewi sedang menjaga warung di rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dari dalam bumi. Orang-orang panik dan lari membabi buta menyelamatkan diri. Beberapa saat kemudian, air laut naik! Dinding-dinding air luar biasa tinggi melahap habis tanah kelahiran Dewi. Semua lebur! Semua musnah!

Dinding air memang usai menerjang namun gempa masih susul-menyusul. Dewi berhasil menyelamatkan diri. Ia didera luka dan ketakutan. Keluarganya entah dimana. Semua bagai mimpi! Rasanya baru saja kemarin ia dan Yensi menyalakan api unggun dan memanggang ikan di tepi pantai. Kini kenyataan pahit seolah menghantui.

Bersama penduduk Aceh lain, Dewi memilih berdiam sementara di masjid. Beruntung ia jumpa dengan Yensi dan Agus, abang Yensi. Mereka membantu Dewi mencari keluarga Dewi.

Dewi berhasil menemukan ayah, ibu, dan Erna. Tapi Nova, adik kecilnya, sepertinya harus diikhlaskan kembali ke pangkuan Sang Khalik. Dewi menggenggam lara. Hari-harinya tak akan sama lagi. Rumah rata dengan tanah. Sekolah, tempat bermain, dan Nova. Bagi kanak-kanak seperti Dewi, semua terlalu berat untuk dipahami. Namun Dewi tetap bersyukur. Nasibnya lebih baik daripada Yensi dan Agus. Keluarga mereka tak diketahui nasibnya.

Dewi dan Yensi berjuang menata kembali hari-hari mereka. Mereka bahu-membahu membangun rumah. Mereka mengikuti program-program rutin yang diadakan relawan untuk anak-anak Aceh. Dan Allah berkehendak lain. Walau telah kehilangan Nova, Dewi dianugerahi anggota keluarga baru yakni, Yensi dan Agus! Dulu mereka bersahabat, sekarang menjadi saudara.

Tsunami! dituturkan dengan bahasa yang ringan dan lancar. Corien pintar mengaduk emosi pembaca. Mengikuti alur cerita tsunaminya, perasaan pembaca seolah tercabik-cabik dan akhirnya, tak kuasa menahan jatuh air mata. Terjemahan novel ini pun dinilai luwes dan tidak membosankan. Dalam alur cerita, Corien mendeksripsikan situasi dan kondisi tsunami di Aceh dengan baik. Khusus untuk keperluan penulisan naskah, beberapa minggu setelah tsunami Aceh, ia datang ke Aceh dan melakukan survei disana.

Meski ringan, Tsunami! sarat pesan. Setelah bencana tsunami, banyak sekali hal yang harus dibenahi. Kalau semua pihak tidak saling dukung, mungkin Aceh akan sulit bangkit. Dalam novel ini diceritakan mencuatnya berbagai aksi solidaritas peduli korban tsunami Aceh. Bantuan mengalir deras, meski kadang distribusi terkendala oleh sulitnya transportasi ke daerah tujuan.

Tenaga-tenaga relawan asing antara lain dari Australia dan Amerika, menunaikan tugas tanpa pamrih. Salah satu tokohnya disini adalah Lexie, relawan asal Australia. Ia tulus membantu proses penyembuhan sakit ayah Dewi. Di tenda penampungan, ia menyusun sejumlah agenda untuk memulihkan trauma anak-anak secara bertahap. Mulai dari menggambar, menyanyi, mengumpulkan foto, bahkan piknik ke pantai! Peran jurnalis juga sangat penting. Mereka aktif menyiarkan kabar melalui koran, radio, dan televisi.

Lalu, mengapa novel ini ditulis dari sudut pandang anak-anak? Karena melalui novel ini, Corien ingin anak-anak ‘bersuara’ tentang bencana, kehilangan, dan trauma. Dewi dan Yensi, tokoh sentral dalam novel ini, berusaha mewakili ‘suara’ anak-anak tersebut. Di Aceh, Corien berkomunikasi dengan anak-anak yang mengalami bencana. Banyak anak kehilangan keluarga mereka. Mereka jelas terguncang. Menurut cerita Corien, salah satu anak, pada waktu-waktu tertentu, terlihat menyendiri di atas perahu yang tertambat di dermaga. Anak itu tak pernah mau didekati oleh siapa pun. “Berdasarkan pengamatan saya di Aceh, saya melihat hamparan cinta tanpa pamrih dapat membuat perubahan besar dalam kehidupan seorang anak,” demikian papar wanita berambut merah ini. (www.corienoranje.nl). Tersurat dalam novel ini, Corien berusaha meyakinkan kepada korban tsunami (terutama anak-anak) agar jangan pernah berhenti berharap serta selalu optimis menatap masa depan. Dan masa lalu biar menjadi masa lalu. “Semua memang tidak sama seperti dulu lagi. Tapi akan baik. Akan baik. Akan kembali baik.” (hlm. 157)
Beberapa foto tanah Aceh setelah diterjang tsunami dan aktivitas anak-anak Aceh, ditayangkan di halaman akhir novel. Fakta data diimbuhkan untuk memberi penjelasan. Sangat informatif.

Kekurangan Tsunami! terletak pada kosakata percakapan penduduk Aceh sehari-hari. Tak ada logat Aceh atau istilah dalam bahasa Aceh yang bisa dicicipi. Misal: orang Aceh biasanya mengatakan ‘keudee’ bukan ‘warung’ dan ‘kereta/honda’ bukan ‘motor’. Identitas lokal yang akrab di telinga penduduk Aceh seperti agam, inong, abu, mak, adoe, dan lain-lain, juga tidak tercantum. Tentu hal ini mengurangi kentalnya rasa etnik lokal Aceh novel Tsunami! di hadapan pembaca. Meski demikian, kekurangan tadi lumayan tertutupi oleh alur dan plot yang cantik.

Corien telah menerbitkan lebih dari 30 judul buku. Semuanya berbahasa Belanda. Tsunami! adalah buku pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Corien kini menetap di Jakarta bersama suami dan keempat anaknya.

Tragedi Perempuan Papua

Tragedi Perempuan Papua
Oleh: Bandung Mawardi

Judul Buku: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2009
Tebal: 240 halaman


PAPUA tersuarakan dengan kata dan makna dalam novel Tanah Tabu anggitan Anindita S. Thayf yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008.

Novel ini menjadi jalan imajinasi untuk ditempuhi pembaca dalam membaca dan menilai lakon Papua. Imajinasi Papua dibeberkan dengan narasi-narasi apik dan impresif. Pengarang telah menunaikan hajat estetika dengan mengajukan novel Tanah Tabu sebagai risalah kaum perempuan menggugat diskriminasi, represi, depresi, dan agitasi.

Spirit pembebasan dan resistensi kultural-politik kentara jadi karakter substantif dalam 3 tokoh perempuan: Mabel, Mace, dan Leksi. Pembebasan dilakukan karena proses perubahan sosial, politik, dan kultural di Papua memaksa kaum perempuan dalam peran-peran pinggiran.

Alienasi dan isolasi sengaja dilakukan kaum lelaki terhadap perempuan sebagai tumbal dari perayaan superioritas maskulinitas dalam tegangan tradisi dan modernitas. Tanah Papua jadi ruang pergulatan intensif dengan pemunculan hero dan korban. Kaum lelaki ingin jadi hero sebagai taktik menutupi kelemahan atau kegagalan dalam melakoni hidup. Perempuan dijadikan korban dari arogansi kelelakian melalui laku politik, ekonomi, sosial, dan kultural. Posisi pelemahan ini justru diresistensi kaum perempuan untuk menjadikan diri sebagai hero meski memberi taruhan harga diri dan nyawa.


Refleksi Diskriminasi
Novel Tanah Tabu kental dengan refleksi atas diskriminasi kaum perempuan. Kondisi itu terjadi secara masif dan melahirkan bayang-bayang ketakutan dan kematian. Bapak sebagai representasi kuasa lelaki memberi gambaran horor pada si bocah perempuan Leksi. Tuturan Leksi ini jadi keluguan dan kelugasan gugatan terhadap dominasi lelaki: "Kubayangkan Bapak serupa sosok hantu yang pantang disebut, kecuali akan membuatmu celaka jika nekat. Bapakku mungkin saja seorang laki-laki yang mengerikan. Ataukah bukan manusia? Hii... Tak tahan, aku merinding sendiri."

Kutipan getir ini merupakan bagian kecil dari perayaan gugatan Mabel dan Mace.

Mabel ditinggalkan suami dengan alasan ketiadaan keseimbangan kompensasi harga diri heroisme lelaki di medan perang. Mace ditinggalkan suami karena risiko zaman atas nafsu hidup dalam duit, tapi bukan spirit. Leksi lahir dan tumbuh dalam asuhan Mabel (nenek) dan Mace (ibu) dalam keterbatasan dan terobosan kemungkinan eksistensial secara ekonomi, sosial, politik, dan kultural. Napas pemberontakan bertumbuh dalam diri tiga perempuan beda usia dan pengalaman.

Fakta perubahan di Papua memang berada dalam dilema. Kehadiran institusi birokrasi, pendidikan, partai politik, dan perusahaan dimaksudkan memberi kesadaran atau pencerahan meski kadang bertentangan dengan kearifan lokal di Papua. Operasionalisasi institusi-institusi itu justru menciptakan celah-celah kebangkrutan untuk kaum perempuan.

Sektor pendidikan memang memiliki kemungkinan bagi kaum perempuan melek aksara dan harga diri. Sektor ekonomi industri pertambangan memang memberi godaan

uang tapi salah ditafsirkan oleh kaum lelaki sebagai sebab untuk hidup konsumtif dan menindas kaum perempuan. Duit jadi janji kenikmatan dalam bentuk minuman keras dan seks. Risiko tragis lalu dialami oleh sektor pertanian karena mengalami kebangkrutan oleh kuasa dan limbah industri.

Kaum perempuan tak mendapati jaminan ekonomi dari perubahan represif melalui industri pertambangan. Mereka malah jadi korban mengenaskan dari ulah kaum lelaki. Hak untuk dapur terabaikan dan pola konsumsi kaum lelaki membuat perempuan jadi sasaran kekerasan dan pemiskinan. Keluarga-keluarga jadi retak dan pecah. Istri dan anak ditinggalkan tanpa ada kompensasi. Kondisi ini membuat kaum perempuan dalam jerat-jerat penderitaan, kemiskinan, dan kematian.

Model pengajaran spirit pembebasan dilakukan oleh Mace pada Leksi mengenai kasus pernikahan. Pernikahan adalah permainan yang ber-langsung setiap hari dengan aturan-aturan diskriminatif. Mace memperingatkan agar Leksi tak terjerumus dalam fantasi pernikahan karena bakal ada risiko getir. Penjelasan dalam konteks permainan seperti jadi analogi sugestif untuk mengajarkan pemikiran kritis terhadap kaum lelaki.

Leksi dengan angan bocah mengatakan: "Menikah itu ternyata susah. Lebih susah dari bersekolah. Tidak libur pada hari Minggu dan tanggal merah." Tindakan diskriminasi dan kekerasan oleh kaum lelaki dengan dalih ekonomi, seks, politik, atau kultural jadi wajah getir dalam novel ini. Pa-pua seperti perempuan yang diperkosa oleh para politikus dan pemilik modal. Janji-janji palsu membuat Papua bangkrut sebagai tanah emas. Kemiskinan dan derita justru disemaikan untuk membuat orang-orang Papua terpuruk karena kearifan lokal direcoki dengan kemajuan pembangunan tak humanis.


Objek
Kaum perempuan adalah korban mengenaskan. Eksis-tensi mereka seperti barang atau rongsokan. Kaum perempuan mesti menanggung aib dari tindak perkosaan terhadap Papua. Fakta ini jadi acuan untuk kritik dan satire dalam novel Tanah Tabu. Mabel memberi ajaran pada perempuan sebagai istri: "Kalau kau seorang yang ingin senantiasa menyenangkan suamimu, lebih baik tanggalkan dulu perasaanmu dalam lemari dapur. Kecuali kau ingin hatimu terus-menerus menangis karena perlakuannya yang seolah-olah lupa bahwa kau juga manusia seperti dirinya."

Novel Tanah Tabu mengingatkan pembaca terhadap derita kaum perempuan di Papua. Biografi Papua tak sepi dari perkosaan nilai-nilai kemanusiaan. Kaum perempuan dipaksa khusyuk dengan tragedi tanpa hak-hak pembelaan. Papua telah jadi lahan subur untuk permainan politik dan ekonomi dengan mengorbankan keperawanan dan kearifan lokal. Kaum perempuan pun jadi objek dari tumpukan kekerasan dan kemiskinan. Novel
Tanah Tabu adalah tanda seru dan tanda tanya untuk semua pihak agar memerkarakan Papua yang mesti bebas dari derita dan tragedi. Begitu.

Potret Buram Kaum Perempuan Papua

Potret Buram Kaum Perempuan Papua
Oleh: Haya Aliya Zaki

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 240


Apa yang Anda ketahui tentang Papua?
Papua, propinsi paling ujung di timur Indonesia, sering diekspos di media cetak dan elektronik tentang kekayaan alam dan keindahan panoramanya yang menakjubkan, tradisi yang masih lestari, aneka kerajinan kayu ukir nan menawan, juga kepolosan masyarakat berkoteka beserta lukisan coreng-moreng di wajah. Jelas, semua tampilan eksotis tentang tanah Papua membuat kita berdecak kagum tiada habisnya.

Namun, bagaimana sesungguhnya nasib masyarakat Papua, terutama nasib kaum perempuannya? Ternyata masalah yang mencuat di sana sangat kompleks. Antara lain: aksi Freeport yang mendominasi kehidupan masyarakat Papua, efek negatif budaya barat yang disuntikkan sejak jaman kolonial, diskriminasi jender, dan tuntutan adat yang mengekang. Kenyataan berbicara, perempuan Papua sering jadi korban.

Lalu perlawanan demi perlawanan muncul. Yang banyak mengundang simpati, perlawanan dari kaum perempuan, dengan berbagai cara. Yosepha Alomang, perempuan kelahiran Tsinga, Papua, gigih membela hak-hak asasi manusia di Papua (khususnya masyarakat sekitar PT Freeport Indonesia). Ada pula nama Tinneke Pahua, perempuan yang baru-baru ini memangku penghargaan khusus dari Komnas Perempuan di Jakarta. Tinneke Pahua dinilai telah memberikan kontribusi besar dalam menggerakkan kaumnya demi melanjutkan hidup di tanah Papua yang erat dicengkeram konflik mencekam. Lalu ada Ester Kerewey, seniwati asal Manokwari. Ester Kerewey mengajak para perempuan Papua berkreasi dan berlatih mandiri. Sungguh, mereka perempuan-perempuan Papua berpikiran maju, bermental tangguh, namun berhati selembut salju. Sayang, di telinga kita, perjuangan mereka terdengar sayup-sayup belaka.

Pernahkah kita berupaya membantu, atau paling tidak mencurahkan sedikit perhatian, serta turut meresapi makna perjuangan mereka nun jauh di sana?

Berawal dari 'keresahan' seorang Anindita

Anindita S. Thayf (Anindita) merasa 'resah' dengan segala bentuk ketimpangan di tanah Papua. Hatinya tergerak untuk menulis realita pedih kaum perempuan Papua. Namun, penulis muda asal Makassar ini tidak menuangkan 'keresahannya' menjadi secarik artikel atau laporan analisa yang kerap membosankan dibaca.
Anindita memilih cara berbeda. Ia meracik pengetahuan dan imajinasinya tentang Papua dalam rupa sastra memikat. Maka, lahirlah novel Tanah Tabu.

Potret penindasan kaum perempuan dalam Tanah Tabu
Tanah Tabu bertutur tentang perjalanan hidup tiga perempuan suku Dani dari tiga generasi yakni Mabel, Mace, dan Leksi. Masing-masing mempunyai nasib serupa tapi tak sama. Mabel, seorang nenek, pernah menikah 2 kali dan kedua pernikahannya kandas. Ia diceraikan suami pertamanya karena dianggap telah ternoda dan dicap perempuan pembawa aib saat diculik oleh suku lain. Sedangkan suami keduanya berlaku kasar dan sering mabuk-mabukkan, karena depresi kehilangan pekerjaan. Mabel memilih meninggalkannya.

Mace, sang menantu, terpaksa kehilangan anak pertamanya, Lukas, akibat penyakit kurang gizi (busung lapar). Anak kedua Mace yakni Leksi, sama sekali belum pernah melihat sosok Johanis, ayahnya (putra Mabel). Johanis memilih menghilang karena tak sanggup menerima kenyataan istrinya diperkosa sekelompok laki-laki biadab. Dan Leksi, si kecil yang kini duduk di bangku sekolah dasar, harus menerima kenyataan pahit, tumbuh tanpa pernah melihat apalagi merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan kalau menyaksikan reaksi dan mimik wajah nenek atau ibunya ketika bercerita tentang ayahnya, Leksi berpikir, ayahnya pastilah sejenis hantu yang sangat menakutkan! Topik tentang ayah lebih baik ia hindari daripada ia mesti melepas bingkai senyum dari wajah sang nenek dan ibunya. Tokoh lain dalam novel adalah Helda, perempuan yang juga menjadi korban kekerasan fisik dan psikis suaminya. Anak perempuan Helda , Yosi, tidak bersekolah karena keluarga mereka dibelit kemiskinan. Yosi kecil dibebani tugas menjaga adik-adiknya. Ia pun sering menjadi pelampiasan kemarahan ibunya yang sedang hamil tua.

Di Papua, kaum laki-laki terlihat perkasa di medan perang dan berjaya saat memburu binatang di hutan. Ketika kembali ke rumah, semua kehebatan mereka ditunjukkan dengan cara menendang dan memukul pasangan. Sementara para istri hanya pasrah menerima semua kekerasan. Dalam novelnya, Anindita membuat perumpamaan kedudukan laki-laki dan perempuan Papua sebagai berikut: laki-laki ibarat manusia sedangkan perempuan sandalnya, laki-laki gerobak-perempuan rodanya, laki-laki raja-perempuan keset kakinya. Sungguh perumpamaan yang membuat miris.

Sejak dini, pada benak perempuan Papua telah ditanamkan dogma bahwa urusan dan kegiatan perempuan tak boleh keluar dari ranah domestik. Takdir perempuan hanya untuk keluarga, suami, kebun, dan babi. Simak kalimat Helda pada Yosi yang ingin ikut membantu bekerja. "Kau ini anak perempuan atau laki-lakikah? Bantu-bantu di rumah dan kebun saja sudah!... Sudah, itu tugas perempuan!..." (hal. 52). Adat juga tidak berpihak pada kaum perempuan Papua. Perempuan dianggap setara benda, dihargai berdasarkan besar kecilnya mahar. Tak ada kebebasan memilih calon pasangan hidup. Benar atau salah, perempuan tetap jadi korban.

Cerita tentang perempuan-perempuan Papua tadi bergulir silih berganti, tetapi cerita hidup Mabel terlihat lebih besar menjabat peran. Disebutkan bahwa Mabel termasuk perempuan Papua yang lumayan beruntung. Semasa kanak-kanak, ia dipiara oleh Tuan Piet dan Nyonya Hermine, pasangan pendatang asal Belanda. Mabel belajar segala hal yaitu berkebun, memasak, dan yang paling utama, Tuan Piet dan Nyonya Hermine mengijinkan Mabel melahap ragam buku! Mabel dewasa memiliki mental matang dan pemikiran modern berkat asuhan keluarga Belanda yang penuh kasih sayang dan kegemarannya membaca buku.

Pergaulan hidup dan cara berpikir Mabel yang tak biasa dari kebanyakan perempuan Papua, membuat Mabel disegani. Mabel ingin anak cucunya menjadi pribadi yang kuat. Hal ini diutarakan jelas dalam kalimatnya, "Dari dulu aku jarang menangis, Sayang. Menangis hanya membuatku semakin lemah, dan aku tidak mau itu terjadi. Selain itu, aku juga kasihan dengan Tanah Ibu kalau kita terus menerus menyiramnya dengan air mata kita. Air jadi asin. Tanaman tidak bisa tumbuh subur. Binatang di hutan berkurang. Langit pun ikut mendung. Nasib baik tidak akan datang kalau kita menangis terus." (hal.58). Mabel juga tak ingin anak cucunya terus dijerat jaring kebodohan. Kebodohanlah yang membuat masyarakat Papua mudah dibohongi.

Tangan-tangan rakus pendatang dibiarkan mengeruk kekayaan alam Papua semena-mena. Dan tragisnya, masyarakat Papua tetap berkubang dalam lumpur kemiskinan!

Mabel memegang teguh prinsip, tanah kelahirannya adalah tanah tabu, tanah keramat yang dianugerahkan Tuhan untuk masyarakat Papua. Tanah yang harus dijaga kelestari

Narasi Pilu Rakyat Papua

Narasi Pilu Rakyat Papua
Oleh: Ali Rif'an

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: I, Mei 2009
Tebal: 240 halaman
Harga: Rp30.000

Luar biasa! Begitulah barangkali kalimat pertama ketika membaca novel berjudul Tanah Tabu ini. Novel ini didedahkan dengan bahasa yang sangat menggelitik, atraktif, sekaligus inspiratif. Titik kisar ceritanya berkerumuk pada keindahan tanah Papua, berikut ketimpangpiluannya. Gemerlap ceritanya dihiasi dengan celoteh ria masyarakat Papua berikut tangisan-tangisannya.

Tiga generasi perempuan Papua, Mabel, Mace, dan Leksi, menjadi tokoh sentral sekaligus seperti hidup dalam novel ini. Mereka adalah satu keluarga penduduk asli Papua dari suku Dani, pewaris kekayaan alam Papua. Tergerus oleh para pendatang yang dengan sangat rakus mengeruk dan menggerogoti kekayaan alam Papua yang berlimpah ruah, ironisnya, suku Dani hidup miskin dan menderita.

Mabel adalah sosok wanita yang mandiri, pemberani, teguh pendirian, cerdas, dan memiliki pola pikir yang modern, hidup sebagai penjual sayur bersama Mace, menantunya, dan Leski, cucunya. Kehidupan mereka dijalani dengan riuh rendah dan apa adanya. Kesederhanaan menjadi teman sejawat bagi keluarga ini. Meski glombang globalisasi dan modernisasi yang ditiupkan oleh pendatang asing tengah mulai menerpa Papua, masyarakat pribumi Papua tak jua merasakannya. Justru arus modernisasi yang melaju kencang itu meliritkan hati rakyat Papua karena mereka merasa dibodohi dan tak bisa menikmati hasil kekayaan nenek moyangnya.

Novel ini mencoba membongkar berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di Papua. Seperti budaya partiarkal suku Dani yang amat merugikan kaum perempuan, ataupun kesejahteraan rakyat Papua yang kian ciut dan tergerogoti.

Melalui tokoh Mabel inilah sebenarnya suara perempuan Papua, berikut ketimpangan masyarakatnya, didengungkan. Mabel dalam novel ini digambarkan sebagai wanita yang berani menentang dan melawan budaya partiarkal dan penindasan yang mengurat nadi di tanah Papua. Meski perjuangan Mabel ini terkesan tertatih-tatih dan akhirnya ditangkap dan dibelenggu oleh pihak-pihak yang tidak suka dengannya, Mabel telah sukses membebaskan keluarganya dari jerat kebodohan. Pun ketimpangan yang menjerat rakyat Papua. Tokoh Mabel ini seperti menjadi cermin bagi manusia Papua yang ideal.

Novel ini sarat dengan kritik sosial. Ketika membacanya dengan pelan-pelan dan penuh penghayatan, pembaca diajak melihat keseharian hidup masyarakat Papua ataupun berada di antara mereka.

Yang menarik, Anindita juga memasukkan tokoh binatang yang dinarasikan seperti manusia dalam cerita ini. Pada titik ini, Anindita tampak ingin menerobos logika pembaca agar sesekali mengernyitkan dahi dan mengelus dada. Sebab, babi dan anjing yang masuk sebagai narator dalam cerita ini sesekali akan menjadikan pembaca kebingungan, sesekali pula penasaran, dan akhirnya membacanya sampai khatam.

Papua dan Resistensi Sastra Pinggiran

Papua dan Resistensi Sastra Pinggiran
Oleh: Bandung Mawardi

Judul: Tanah Tabu
Penulis: Anindita S. Thayf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2009 Tebal: 240 Halaman


NOVEL Tanah Tabu menyapa pembaca dengan naras-narasi kritis tentang perempuan, kapitalisme, patriarki, dan kekuasaan. Novel jadi juru bicara untuk membuka memori kolektif dan memaparkan pelbagai kebobrokan dan marginalisasi terhadap Papua. Biografi Indonesia masih sekadar menjadikan Papua sebagai catatan kaki. Kondisi membuat orang-orang Papua mengalami pengabaian secara sistematis dan ideologis. Papua justru jadi argumentasi politik dan ekonomi untuk menumbuhkan klaim tentang harga diri Indonesia di hadapan negara-negara lain.

Pengarang sengaja menghadirkan tokoh-tokoh kunci (Mabel, Mace, Leksi) untuk memerkarakan Papua dalam perspektif perlawanan dan kepasrahan dengan keterpaksaan. Mereka hadir dalam konstruksi peradaban tanpa akses dan hak karena negara dan pemilik modal telah melakukan dominasi. Papua jadi tubuh luka oleh perkosaan (eksploitasi) ekonomi, politik, identitas, dan kultural. Novel ini hadir untuk memberi narasi kritis dalam memerkarakan Papua.

Novel ini memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008. Dewan juri (Kris Budiman, Linda Christanty, dan Seno Gumira Ajidarma) memilih novel ini dengan sekian argumentasi untuk mengesahkannya sebagai representasi nasib masa depan novel Indonesia . Tanah Tabu cenderung jadi novel dengan suara-suara kritis memakai acuan lokalitas dalam wacana pinggiran kesusastraan Indonesia modern.

Pemakaian latar Papua menunjukkan kesanggupan pengarang untuk diposisikan sebagai pengarang pinggiran. Pilihan latar dan tumpukan masalah tentang Papua selama ini kerap digarap oleh kalangan aktivis politik atau LSM. Kesusastraan Indonesia justru lengah untuk memberi perhatian dan ruang mengenai lakon-lakon kultural dari ranah pinggiran. Pengarang sadar bahwa pilihan menulis novel Tanah Tabu menjadi resistensi terhadap dominasi novel Indonesia dengan latar kultural Jawa dan Sumatra .

Anindita dalam obrolan sastra di Taman Budaya Jawa Tengah (18 Juli 2009) dengan tema Masa Depan Novel Indonesia mengakui: "Saya menyebut Tanah Tabu sebagai sastra pinggiran. Tanah Tabu berkisah tentang manusia-manusia pinggiran dan sengaja dipinggirkan. Kisah tentang orang-orang biasa yang berusaha mengalirkan hidupnya secara wajar. Mereka bekerja, menangis, berkeringat, tertawa, putus asa, dan berusaha apa adanya."

Pengakuan ini jadi ideologi estetika dan dieksplisitkan melalui karakterisasi tokoh-tokoh perempuan sebagai korban tapi penantang.

Lakon Perempuan
Tanah Tabu mengisahkan lakon hidup tiga perempuan dalam fase (generasi) berbeda. Mabel jadi tukang kisah tentang proses peradaban di Papua melalui ketengangan kultural dari sisa-sisa kolonial, lokalitas, dan penetrasi kultur pendatang dari Jawa atau daerah-daerah lain. Mabel melakukan afirmasi terhadap model pendidikan dari keluarga asing secara konstruktif. Pengetahuan dan praktik hidup dalam proses peradaban atas nama modernitas itu justru menjadi acuan kritis untuk menolak pelbagai norma-norma hidup di Papua dalam cengkraman patriarki.

Mabel terus melakukan resistensi dari model-model dominasi atas perempuan melalui mesin parta politik, ekonomi kapitalistik, militerisme, dan hegemoni kultural. Perlawanan Mabel kerap menemui "kekalahan" tapi memberi spirit bahwa kebermaknaan hidup perempuan tidak ditentukan secara absolut oleh desain kaum lelaki. Spirit emansipatif itu diwariskan pada Mace dan Leksi dengan perbedaan kadar dan bentuk ekspresi. Mace justru mengalami pelemahan karena mengalami represi dari perkosaan sampai jadi korban tindak kekerasan tanpa janji keselamatan. Leksi menjadi pewaris naif tapi sanggup merumuskan diri sebagai perempuan penantang meski masih bocah.

Mabel, Mace, dan Leksi terus menghadapi godaan dari pola kehidupan patriarki, kegenitan politik, intervensi eksploitatif dari negara, dan ekspansi ekonomi pertambangan asing. Papua dan tiga perempuan itu seperti menjadi tubuh terbuka untuk mengeruk uang dan kuasa. Perlawanan dan kepasrahan adalah risiko untuk tetap memiliki haraga diri sebagai perempuan. Rentetan tragedi terjadi tapi tiga perempuan Papua itu belum ingin mati atau berhenti tanpa arti. Resistensi ekonomi, politik, dan kultural membuat mereka jadi santapan dari kekerasan, militerisme, hinaan, diskriminasi, dan marginalisasi.

Resistensi
Ekspresi resistensi terasakan dalam ambisi untuk melakukan demonstrasi karena orang-orang Papua selalu jadi pihak merugi tanpa kompensasi seimbang. Mabel terlibat aktif dalam proses penyadaran terhadap orang-orang Papua. Pelbagai pertimbangan mengenai target dan risiko diajukan untuk realisasi demonstrasi. Seorang tokoh mengekspresikan resistensi dengan tendensi membongkar stereotipe terhadap kaum pribumi Papua di mata para pendatang: "Mereka seharusnya takut sama kita karena mereka hanya pendatang. Orang asing. Mereka mencari uang dan hidup di tanah kita. Jadi kaya dan hidup senang karena mengambil emas kita. Sedangkan kita ... tidak dapat apa-apa kecuali kotoran mereka dan janji-janji palsu. Cuihh!". Ekspresi ini menjadi bentuk kemarahan atas praktik kapitalisme di Papua tanpa ada janji dan jalan penyelamatan.

Resistensi patriarki menjadi tema penting dalam novel Tanah Tabu dalam bayang-bayang kuasa kapitalisme dan negara. Mabel tidak takut melawan meski taruhan nyawa. Ekspresi resistensi jadi penting untuk membuktikan bahwa orang-orang Papua tidak lemah dan merubah stereotipe orang-orang Papua tak beradab, bengis, atau liar. Mabel adalah juru bicara penyadaran karena memiliki perangkat pengetahuan kritis tanpa harus melakukan gerakan-gerakan kultural secara gegabah dan konyol.

Lakon perempuan dan resistensi terhadap pelbagai mesin dominasi atau hegemoni dirumuskan oleh pengarang dalam ungkapan reflektif: "Di ujung sasr ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah." Pengarang telah memberikan novel Tanah Tabu ini untuk pembaca dengan pesan penyadaran dan tanggapan kritis. Pembaca memiliki hak untuk membaca dan menilai dalam pelbagai tendensi dan pamrih untuk memerkarakan Papua.

Catatan Masa Kecil Seorang Santri

Catatan Masa Kecil Seorang Santri
Oleh: Ahmadun Yosi Herfanda

Judul buku: Negeri 5 Menara
Pengarang: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 418 halaman
Cetakan: Pertama, Juli 2009

Man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Inilah hikmah pertama yang dapat kita tangkap saat membaca novel Negeri 5 Menara. Hikmah yang juga diterima oleh pengarangnya, A. Fuadi, saat belajar di Pesantren Gontor, dan menjadi semacam doktrin yang harus diamalkan oleh para santri Pesantren Madani yang begitu ajaib dalam novel ini.

Ada dalam satu mainstream dengan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai novel pendidikan, novel Negeri 5 Menara juga mengangkat romantika kehidupan siswa (santri) di sebuah lembaga pendidikan yang terpencil di pedesaan. Para tokoh cerita dalam novel Andrea Hirata dipanggil sebagai Laskar Pelangi, sedangkan para tokoh cerita dalam novel A. Fuadi dipanggil sebagai Sahibul Menara.

Laskar Pelangi adalah sebutan bagi 10 siswa dari keluarga miskin yang bertahan di SD (sampai SMP) Muhammadiyah di desa terpencil di Bangka. Saat berekreasi, mereka melihat pelangi, dan guru mereka, Bu Muslimah, pun memanggil mereka sebagai Laskar Pelangi. Sementara Sahibul Menara adalah sebutan bagi enam santri Pondok Madani yang suka berkumpul di taman di kaki menara masjid Pondok Madani untuk berdiskusi tentang banyak hal sambil menunggu azan Maghrib.

Baik Laskar Pelangi maupun Negeri 5 Menara sama-sama berbicara tentang tradisi dan semangat belajar, cita-cita dan impian tentang masa depan.

Kedua novel tersebut sama-sama terinspirasi dari kisah nyata pengarangnya. Bedanya, latar cerita Laskar Pelangi adalah sebuah sekolah Muhammadiyah di daerah terpencil yang nyaris dibubarkan karena kekurangan murid, sedangkan Negeri 5 Menara adalah sebuah pesantren (juga di daerah terpencil) yang ajaib karena santrinya mencapai ribuan dan penegakan disiplin serta sistem pendidikannya yang begitu luar biasa.

Penuh hikmah
Sebagai novel pendidikan, kisah Sahibul Menara dalam novel Negeri 5 Menara, yang terpusat pada kisah tokoh utamanya, Alif Fikri, ini adalah kisah yang sangat inspiratif dan penuh hikmah. Cukup pas komentar pendek Andy F. Noya pada sampul buku, "Novel inspiratif dengan selingan humor khas pondok. Jarang ada novel yang bercerita tentang apa yang terjadi di balik sebuah pondok yang penuh teka-teki. Buku ini sarat dengan vitamin bagi jiwa kita."

Dibuka dengan cerita saat Alif Fikri berada di Washington DC sebagai wartawan sukses yang akan berangkat ke London untuk mewawancarai Tony Blair, kisah kemudian meloncat mundur jauh ke belakang, saat Alif masih menjadi siswa madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) di Agam, Sumatera Barat. Alif sangat bermimpi untuk dapat melanjutkan ke SMA terbaik di Bukittinggi. Tapi, orang tuanya sangat menginginkan dia masuk ke sekolah agama. Berkat informasi dari Pak Etek Gindo, akhirnya Alif memilih masuk Pondok Madani, tempat pertama kali Alif Fikri berkenalan dengan dunia jurnalistik dan kewartawanan.

Dari sinilah, A. Fuadi lantas bercerita panjang lebar tentang perantauan Alif dalam mencari ilmu, yang sebagian besar mengisahkan Alif dan kawan-kawannya dari berbagai daerah selama menuntut ilmu di Pondok Madani, serta pengalaman Alif menjadi wartawan Harian Kilas 70--- sebuah majalah dinding Pondok Madani yang terbit tiap hari. Alif dan kawan-kawannya (Sahibul Menara) tumbuh di tengah ketatnya penegakan disiplin dan dorongan semangat untuk maju, dengan prinsip man jadda wa jadda. Mereka harus belajar sejak bangun dini hari (04.30) sampai menjelang tengah malam (22.00). Mereka tidak boleh terlambat sedikit pun dalam mengikuti semua kegiatan pondok yang telah dijadwal secara ketat. Mereka hidup dalam pengawasan petugas keamanan pondok (Kismul Amni) yang siap mencatat dan menghukum tiap santri yang melanggar peraturan pondok tanpa pandang bulu.

Pada bagian yang mendominasi hampir seluruh bagian novel ini A. Fuadi merefleksikan pengalamannya saat belajar di Pondok Modern Gontor. Sepertinya, hampir semua bagian novel ini memang merupakan catatan pengalaman hidup A. Fuadi. Dia masuk Pondok Modern Gontor atas permintaan ibunya. Di pondok ini dia menjalani jadwal belajar yang ketat, dan di pondok ini pula dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan dalam mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, man jadda wa jadda. Pengalaman menarik yang penuh hikmah itulah yang dikemasnya menjadi sebuah novel setebal lebih dari 400 halaman.

Hal yang juga menarik dalam novel ini adalah kepiawaian A. Fuadi dalam menceritakan hal-hal yang sebenarnya biasa, seperti hukuman bagi santri yang melanggar disiplin, menjadi dramatis sekaligus jenaka. Misalnya, ketika Alif Fikri dan kawan-kawan sekamarnya kepergok terlambat ke masjid. Mereka disergap oleh petugas keamanan pondok di tengah lapangan. Karena sosok sang petugas mirip Mike Tyson, Fuadi pun menyebutnya sebagai "sergapan pertama Tyson". Begitu juga kerja keras para kru Harian Kilas 70, yang intinya hanya menggambarkan kesibukan para santri dalam menyiapkan majalah dinding harian tersebut, bisa dikisahkan secara menarik, sekaligus mengandung makna man jadda wa jadda. Misalnya, saat Alif yang bertubuh kecil harus berebut dengan para wartawan professional untuk mewawancarai Panglima ABRI yang sedang berkunjung ke Pondok Madani, dan bersama timnya ia harus menyiapkan edisi terbaru Kilas 70 hanya dalam waktu beberapa jam agar dapat diberikan kepada sang panglima.

Selain itu, novel ini juga kaya muatan tradisi lokal, baik tradisi pengajaran di Pondok Pesantren maupun tradisi lokal masyarakat Agam (Minang) di Sumatera Barat. Bahkan, perjalanan darat Alif Fikri dan ayahnya dari Sumatera Barat ke Gontor (Jawa Timur) pun ia sebut sebagai semacam perjalanan budaya, karena di sepanjang perjalanan mereka menyaksikan berbagai ekspresi budaya masyarakat daerah-daerah dan kota-kota yang dilaluinya.

Karena itu, kita patut menyambut gembira kehadiran novel pendidikan ini. Apalagi, jika ternyata juga laris di pasar buku novel Indonesia. Kehadiran novel-novel semacam itu dapat menjadi penyeimbang, atau bacaan alternatif, di tengah maraknya novel-novel sekuler yang rata-rata juga laris.

Larisnya novel-novel semacam itu, dan semoga juga Negeri 5 Menara, mengindikasikan bahwa masyarakat juga membutuhkan dan menyukai bacaan-bacaan (fiksi) yang mencerahkan. Ini juga merupakan indikasi bahwa masyarakat tidak hanya memerlukan bacaan yang menghibur, tapi juga mengandung hikmah atau semacam vitamin kehidupan yang membuat mereka dapat terdorong untuk bersikap lebih positif dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan godaan duniawi.

Memaknai Kembali Asal Usul Kesuksesan

Memaknai Kembali Asal Usul Kesuksesan
Oleh: Meicky Shoreamanis Panggabean

Judul: Outliers: Di Balik Rahasia Sukses
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-4476-2
Tebal: 309 halaman

Apa persamaan The Beatles dan Mozart ? Mengapa dua jenius besar bisa memiliki nasib yang bertolak belakang: Robert Oppenheimer berhasil menembus Harvard dan Cambridge lalu menjadi fisikawan terkemuka di Amerika sedangkan Chris Langan hanya lulus SMA dan kini menjalani hidup sebagai petani? Mengapa sebagian besar pemain hockey kawakan di Kanada lahir di bulan Januari? Mengapa perintis perusahaan komputer besar di Amerika hampir semuanya lahir di tahun 1955? Mengapa tingkat kecelakaan pesawat terbang Korean Airlines memiliki kaitan dengan analisis kultural dan linguistik ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas nampaknya tak berkaitan satu dengan yang lain namun jika kita membaca buku ini, kita akan tahu bahwa sesungguhnya ada seutas benang merah yang menjadikan mereka satu:Bagaimana kesuksesan bisa diraih.

*

Sebagian orang menganggap bahwa kesuksesan diraih karena nilai-nilai instrinsik: kerja keras dan kepandaian. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell menyanggahnya dan memaknai kesuksesan sebagai kombinasi dari berbagai faktor. Keberhasilan adalah akhir dari kepandaian, kemauan keras untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, keberuntungan, peristiwa dalam sejarah dunia dan momen-momen tertentu di kehidupan pribadi yang semuanya dialami oleh orang yang tepat dan berlangsung di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.

Sesungguhnya Gladwell, mantan jurnalis The Washington Post yang menelurkan dua buku bestseller sejak kepindahannya ke majalah New Yorker, sedang menyampaikan gagasan-gagasan lama. Di sepanjang tulisan, ia tak menyebut secara eksplisit nama dari sosok nyata yang tak sependapat dengannya. Ia cenderung melakukan monolog, yaitu berdebat dengan 'we'. Saya rasa hal ini terjadi kemungkinan besar karena memang tak ada orang yang membantah gagasan klasik tentang makna kesuksesan di buku berdesain minimalis ini.

Bagaimanapun, Gladwell menyuguhkan ide-idenya dengan renyah sehingga mudah dipahami. Seperti halnya Tipping Point dan Blink, dua karya yang membuatnya dijuluki pop sociologist oleh beberapa media, 'Outliers' tampil dengan bahasa yang ringan dan menghadirkan banyak studi kasus yang jarang bisa diakses melalui harian atau majalah. Banyak nama besar dan fenomena menarik bermunculan sebagai contoh.
Simak saja, Gladwell menyoroti kecenderungan bangsa Yahudi di Amerika untuk menjadi pengacara atau dokter serta kemampuan matematis orang Asia yang jauh lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat. Ia lantas bertanya, mengapa itu semua terjadi ? Sangat mungkin ini juga pertanyaan jutaan orang lainnya yang kerap dilontarkan dalam obrolan ringan di kafe atau dibahas iseng-iseng di milis. 'Outliers' berusaha menjawab dan para penggila baca di Amerika pun langsung menjadikan buku ini bahan perbincangan sejak penerbitan perdananya November tahun lalu.

*

Outliers mengacu pada situasi atau sosok yang secara signifikan berbeda dengan yang lain. The Beatles adalah outlier dalam sejarah musik dunia yang telah menghasilkan puluhan band terkenal. Bill Gates adalah outlier di antara ratusan ahli komputer yang sekarang bisa dengan mudah kita jumpai di era high-tech ini. Tingkat kecelakaan yang dialami Korean Air di masa lampau juga termasuk tinggi dan karenanya dianggap outlier mengingat pesawat mengalami naas saat pilot sedang dalam kondisi prima dan pesawat terbilang layak terbang. Lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi outliers?

Mari kita intip daftar 75 orang terkaya sepanjang sejarah, dari mulai tokoh Mesir Kuno yaitu Cleopatra dan Firaun hingga nama dari zaman modern seperti Bill Gates dan Sutan Hassanal Bolkiah. Jika daftar itu dicermati, kita akan menemukan sebuah fakta unik berupa 14 orang Amerika yang lahir antara 1831-1839. Bayangkanlah jumlah generasi yang terentang dari mulai Firaun hingga Bill Gates dan jumlah negara yang pernah ada di muka bumi. Lihatlah bahwa 20% dari daftar di atas ternyata berasal dari sebuah generasi di sebuah negara !

Gladwell yakin ini terjadi karena tahun 1860 dan 1870an Amerika sedang menuju masa keemasan:Ketika itulah Wallstreet lahir, pabrik didirikan dan jalur kereta mulai dibangun. Mereka yang lahir di sekitar 1850an kehilangan momen untuk berpartisipasi karena terlalu muda sedangkan mereka yang lahir tahun 1820an sudah terlalu tua dan kerangka berpikirnya tak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman. Di antara dua pihak ini terbentanglah 9 tahun periode yang memberi bayi-bayi kesempatan emas untuk kelak berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi saat dewasa.

Contoh kasus di atas menunjukkan kita keyakinan Gladwell bahwa faktor ekstrinsik amat berperan dalam kesuksesan seseorang:peristiwa tertentu dalam sejarah dunia, misalnya. Nampak sekali bahwa ia bahkan percaya bahwa elemen ekstrinsik ini kerap lebih menentukan daripada instrinsik. Pembahasan macam ini tak hanya muncul sekilas namun mewarnai isi buku secara kental. Tak heran jika lantas terpancar kuat dari isi buku bahwa dalam sebuah kesuksesan, peran kerja keras urutannya hanyalah nomor dua setelah keberuntungan.

Tentu saja hal ini amat mungkin untuk diperdebatkan. Ambillah Victor Frankl sebagai contoh, misalnya. Psikiater ini mengalami siksaan di bawah rezin Nazi namun bisa bertahan hidup hingga umur 90. Pada kasus Frankl, yang berhasil menulis lebih dari 20 buku setelah mengalami tahun-tahun penuh aniaya, kesuksesannya jauh lebih ditentukan oleh nilai-nilai intrinsik dan bukan ekstrinsik, yaitu kerinduan untuk berjumpa istri dan keinginan untuk memperoleh makna hidup dengan cara berkarya

Banyak pembaca juga melayangkan pikiran kea arah surat-surat Ibu Theresa dari Kalkuta. Kumpulan surat ini pernah menjadi laporan utama di majalah terkemuka terbitan negara tempat Gladwell berdomisili, TIMES, dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Pergulatan batin perempuan Albania ini jelas menunjukkan bahwa upaya karitasnya bisa berkembang, bukan hanya bertahan, sebagian besar karena nilai-nilai intrinsik seperti ketabahan serta kepasrahan.

Bagaimanapun, saat buku sudah terbit, pengarang pun mati. Sebagai pembaca kita memiliki kebebasan penuh untuk memaknai kesuksesan. Kita bisa melahap buku ini mentah-entah atau terpana pada rasanya yang gurih dan, pada saat yang sama, menjadi pembaca yang memiliki sikap kritis.

Pendekar Bawel Terpanah Asmara

Pendekar Bawel Terpanah Asmara
Oleh: Triani Retno A.

Judul buku: Bodyguard Bawel
Penulis : Triani Retno A.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2009
Tebal buku: 184 hal

Mungkin sudah takdir ya, cewek lebih banyak bicara daripada cowok. 'Potensi' ini bahkan telah terbaca sejak mereka masih kanak-kanak! Tak percaya? Fakta menyatakan, anak cewek mulai berbicara lebih awal daripada anak cowok. Pada usia 3 tahun, jumlah kosa kata anak cewek dua kali lipat daripada anak cowok. Lalu, bandingkan obrolan harian seorang cewek dengan cowok. Cowok mengatakan 2000-4000 kata saja. Sedangkan cewek, bisa sampai tiga kali lipatnya! Ternyata setelah diteliti, cowok hanya punya sedikit titik penting di dalam otak yang fungsinya mengendalikan ketrampilan berbicara. Sedangkan di otak cewek, areanya lumayan besar (Alan and Pease, 2008:109). Hmmm, jadi wajar saja bila cewek sangat menikmati kegiatan berbicara dan sering melakukannya!

Tapiiii....bagaimana kalau ada cewek yang kelewat banyak bicara alias bawel? Ya, bawel! Seperti Alea Nandhika (Lea)! Hm, terbayang tidak ya berapa porsi area di otaknya yang mengendalikan ketrampilan berbicara berdasarkan teori di atas? Hihihi....Teman-teman Lea sering minta ampun melihat kebawelan Lea. Soal bicara, siswi kelas XI SMA Pelita Ilmu Jakarta ini bisa diibaratkan mobil yang remnya blong. Ditanya 1, jawabnya 1000! Teman-teman Lea memiliki keluhan yang sama bila di dekat Lea: berisiiiikkk...!!!

Menilik sekilas judul novel ini, mungkin kamu-kamu langsung teringat film romantis jadul (atau malah pada belum pernah nonton saking jadulnya film ini?) seperti: Bodyguard (Kevin Costner-Whitney Houston) dan The Defender (Jet Li-Christy Chung). Film-film tersebut berkisah tentang cewek yang akhirnya kesetrum api cinta dengan bodyguard (pengawal pribadi) mereka. Namun, kisah Bodyguard Bawel ini sama sekali berbeda. Bodyguard Bawel adalah julukan sosok Lea yang selalu membuat teman-temannya jatuh kangen. Lea yang baik hati dan pantang melihat ketidakadilan di depan mata. Hohoho....kesannya pendekar sekali ya? Tapi benar, buktinya cewek bersabuk hitam karate ini hobi mengejar copet. Statusnya sebagai cewek, urung menghalanginya ’beraksi’. Singkat cerita, siapa saja yang butuh bantuan, Lea bersedia memberikan bahu untuk bersandar.

Kisah bermula saat Yola, teman Lea, kelimpungan mencari Adit, cowok tampan yang jago melukis. Beberapa hari lagi, sekolah mereka akan mengadakan lomba lukis untuk anak-anak SD. Adit yang nyata-nyata menjabat ketua panitia lomba, malah mendadak raib! Sebagai salah satu anggota panitia, bagaimana Yola tidak stres! Apalagi waktu perlombaan semakin dekat.

Nah, bukan Lea namanya kalau tidak menolong sahabat.. Lea pun gencar berburu informasi tentang Adit. Akhirnya, berdasarkan informasi yang didapat, Lea, Yola, dan Yugi (sahabat kental Lea), mencari Adit di rumah sakit. Sesungguhnya, Adit tidaklah sakit. Rumah sakit baginya hanya tempat untuk menyendiri, mengenang kejadian suram masa lalu. Badai dalam keluarga menorehkan banyak luka dan membuatnya trauma.

Melihat Lea dan Adit sama-sama jomblo, Yugi mencoba menyambung ’rasa spesial’ antar keduanya. Hati Lea berbisik, Adit lumayan tampan, tapi aneh. Masa cowok tampan hobinya menyambangi rumah sakit! Saat ini, Adit belum mampu menggetarkan hati Lea. Perasaan Lea cuma sebatas kagum pada lukisan-lukisan Adit. Lea mencari cowok yang bisa membuatnya terpanah asmara pada pandangan pertama.
Bagai mimpi menjelma kenyataan, akhirnya Lea bertemu cowok idaman. Namanya, Gilang. Dasar pendekar bawel, bertemu dengan sang pujaan pun dalam rangka kejar-mengejar copet. Waktu itu Lea membantu menangkap orang yang mencopet tas mama Gilang. Lalu Lea dan Gilang berkenalan. Pada pandangan pertama, Lea terpanah asmara!

Sedikit demi sedikit Lea mulai menyesuaikan diri dengan kepribadian Gilang. Lagu RBT ’Kucing Garong’ nan garang favoritnya, diganti dengan lagu Gita Gutawa yang manis. Lea rela belajar musik klasik, jenis musik kesayangan Gilang. Untuk mempermulus hubungan asmaranya, Lea berguru khusus pada buku ”25 Kiat Mendapatkan Pacar Idaman”.
Hmmm....bagaimana kelanjutan hubungan Lea dan Gilang? Benarkah tak ada percik cinta antara Lea dan Adit? Akankah Dewi Amor tetap setia menaungi perjalanan asmara sang pendekar bawel? Agar tak lebih lama berselubung jubah penasaran, silakan cari novel ini dan baca sampai tuntas!

Tema cinta serta persahabatan dalam kemasan novel, memang tidak pernah mati. Dari waktu ke waktu peminatnya membengkak, terutama dari kalangan anak muda. Dan Bodyguard Bawel mengurai kisah bertema tersebut dengan bahasa yang lincah dan segar, khas remaja. Lelucon-lelucon menggelikan namun bernilai positif, mengalir bak air. Sangat cerdik, di sini penulis menyelipkan antara lain informasi seputar isu pemanasan global yang kini menjadi momok penghuni bumi dan kerennya pemakaian biogas yang ramah lingkungan. Penokohan Lea sebagai cewek super bawel dibangun cukup sukses. Petikan tips-tips lucu ”25 Kiat Mendapatkan Pacar Idaman” pun lumayan mencuri perhatian. Tak heran bila novel ini berhasil menghantarkan penulisnya meraih predikat Pemenang Berbakat (Lomba Cerita Konyol Remaja 2008).

Sedikit masukan untuk novel Bodyguard Bawel. Ruang imajinasi pembaca tentang penampilan masing-masing tokoh, masih tersekat dikarenakan minimnya deskripsi. Misal, keriting atau luruskah rambut Lea? Apa pakaian favoritnya? Setampan siapa wajah Gilang? Rupa indo seperti Christian Sugiono-kah? Atau paras oriental mirip Glen Alinsky? Deskripsi visual terasa kering di sini.

Mengenai alur cerita, kehadiran tokoh Adit menimbulkan tanya. Di bab-bab awal, tokoh Adit menjabat peran lumayan penting. Tapi setelah itu, sosoknya seolah menguap, menyisakan akhir cerita yang kurang menggigit. Trauma masa lalu Adit, mungkin bisa dieksplorasi lebih dalam. Juga kelanjutan hubungannya dengan Lea.

Namun di atas itu semua, Bodyguard Bawel layak diapresiasi. Novel ini kocak, ringan, tanpa terlupa pesan. Sangat cocok menemani kamu minum cokelat hangat di sore hari atau melepas penat setelah menyelesaikan setumpuk peer dan ujian sekolah.

Resensi Buku: Go Ask Alice

Resensi Buku: Go Ask Alice
Oleh: Fajar Riyanto

Judul buku: Go Ask Alice
Penulis: Anonim
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 187 halaman


Belum ada angka yang pasti, berapa jumlah nyata remaja korban obat-obatan terlarang ini di Indonesia. Fenomena gunung esnya itu emang bisa bikin kita terkejut, kalau data dari Yayasan Cinta Anak bangsa yang menyatakan, kota Yogya sebagai kota terbesar yang remajanya sebagai pecandu. Nyatanya Kota
Pelajar itu membuat kita berhenti tertawa dengan ungkapan tadi di atas.

Buat apa sih, kita bersusah payah baca diary seseorang yang tidak kita kenal. Untuk apa juga penerbit, mau maunya nyetak buku yang isinya cuman catatan harian doang? Emangnya dia itu Anne Frank, anak Yahudi yang punya diary yang jadi sumber sejarah? Who is Alice, anyway?

Well, Alice could be anyone, could be somebody (as) you know.
Buku ini jadi sangat menariknya karena Alice itu bukanlah siapa-siapa. Nyantumin diri sebagai anonim, bikin buku ini jadi buku superstar menjelang masuknya milenium baru kemaren.

Buku yang kita bahas ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia Pustaka Utama, dari buku aslinya, Go Ask Alice. Lalu ditambahin embel-embel taglines : “Buku Harian Seorang Remaja Pecandu Narkoba” plus anak kalimat ‘sebuah kisah nyata’ yang terkesan bombastik.

Oke, lah, saatnya kita berkenalan dengan penulis buku harian ini. Siapapun namanya, dia adalah remaja, yang genap berusia 15 tahun pada tanggal 20 September. Punya orang tua yang sejahtera, yang sangat mengasihinya, punya rumah yang bagus, hampir tak ada celah untuk bilang: dia tidak bahagia.

Itu di bagian luarnya saja. Selintas, temannya banyak, kadang masih bisa berkumpul dengan teman di sebuah pesta sekolah, nyaris seperti layaknya remaja kebanyakan lah! Tapi, sebenarnya dia sangat tertekan, penyendiri, sulit untuk mengendalikan diri, hingga ke soal kecil asmaranya dengan Roger yang akhirnya menyebabkan dia terjangkit penyakit self-destructive romance.

Pokoknya, yang terjadi di dalam lebih kompleks ketimbang gayanya yang terkesan remaja yang anteng.

Dari bahasanya, buku ini ditulis oleh remaja yang aslinya periang. Lalu, ngerambat ke dalam isinya, lembar demi lembar, bisa bikin merinding. Ketika dia depresi berat, dirawat karena pengaruh lysergic acid diethylamide (LSD) di rumahsakit ketergantungan obat, dia menulisnya tanpa tanggal yang tak tertera. “…Aku masih suka dihantui cacing-cacing, tapi aku sedang mencoba mengendalikan diri….. Kadang-kadang mereka begitu nyata, bahkan aku merasakan kehangatan dan licin tubuh mereka yang lembek dan gendut….dan setiap kali hidung atau salah satu bekas lukaku terasa gatal, aku mesti berusaha keras menahan diri supaya tidak menjerit-jerit minta pertolongan…” (hal 149)

Kehancuran fisik akibat pengaruh obat-obatan bukan hanya merontokkan rambutnya. Rautnya yang dulu ceria menjadi sembam, kerontokan gigi, dan silakan baca sendiri sejumlah akibat lainnya, pasti merinding! Asliii!!

Buku ini jadi lebih menarik lagi karena isinya hanyalah sebuah diari. Emosi si penulisnya masuk ke dalam tuturan bahasanya. Kebimbangan saat baru saja menolak tawaran teman dengan, “Ah, tidak terima kasih,” itu dilanjutkan dengan rasa penasaran khas remaja banget, dan sejumlah dilema seputar pergaulan dan lingkungan. Tanpa maksud menggurui, buku yang tidak mencantumkan nama asli, tahun kejadian, dan tempat yang spesifik diganti, atau disamarkan itu, membuat kita dekat dengan jalan ceritanya. Jujur, apa adanya, dan kena!

Saat dia bertahan, dan jatuh lagi ke jurang yang sama, dan jatuh lagi, diari inilah yang jadi peri pelindungnya. Buku setebal 187 halaman ini mencatat bagaimana dia bertahan, dan tetap bisa berdialog dengan dirinya
sendiri, agar tetap punya semangat untuk hidup. Dia meninggal dunia, setelah tiga minggu berhenti menulis diari bertanggal 21 September.

“Dulu kupikir aku akan membeli buku harian lain setelah kamu penuh, atau bahwa sepanjang hidupku aku akan selalu menulis di buku harian. Tapi, sekarang rasanya aku tidak ingin lagi….” Tulisnya terakhir kali. Buat saya, Go Ask Alice, the fabulous book.

Resensi Buku Kesehatan

Resensi Buku Kesehatan

Judul Buku : DNA Cantik: The Truly Beauty of Women
Penulis : Tauhid Nur Azhar
Penerbit : ZIP Books
Tebal : 252 Halaman
Terbit : Mei 2009
Harga : Rp45.000

Menjadi Perempuan Cantik Lahir Batin

SELALU terlihat dan tampil cantik, sudah pasti menjadi impian seluruh perempuan mana pun. Tak usah heran, berbagai cara pun selalu diupayakan kaum hawa untuk bisa mewujudkan kecantikan pada diri mereka. Karena kecantikan berperan dalam mencapai kebahagiaan dalam kehidupan.

Dengan penampilan yang cantik, maka perempuan akan lebih percaya diri dalam berinteraksi. Selain itu, menjaga kecantikan pun bisa menghadirkan kebahagiaan bagi pasangan hidup (suami). Bisa dibayangkan, bagaimana perasaan suami yang sudah lelah bekerja sepanjang hari ketika pulang ke rumah penampilan istri tidak terawat.

Namun, perlu diingat, kecantikan tidak sekadar dari penampilan fisik yang menarik saja. Sebab, kebahagiaan bisa diwujudkan melalui kecantikan yang paripurna, yaitu kecantikan lahiriah yang disertai kecantikan jiwa. Dengan kecantikan lahir dan batin, maka seorang perempuan tampil lebih menarik.

Untuk mewujudkan kecantikan lahir dan batin pun bukan hal yang sulit. Semua dikupas secara menarik dalam buku DNA Cantik: The Truly Beauty of Women karya Tauhid Nur Azhar yang diterbitkan ZIP Books. Penulis yang juga pengajar Biopsikologi di Universitas Islam Bandung dan Universitas Kristen Maranatha, menjelaskan secara runut dan detail rahasia menjadi perempuan yang cantik lahir batin.

Buku setebal 252 halaman ini sangat cocok bagi para perempuan yang ingin mewujudkan kecantikan lahir dan batin. Sebab, buku yang terdiri dari 12 bab ini secara terstruktur mengulas menjadi sosok perempuan yang cantik, sejak dari dalam DNA (asam deoksiribosa nukleat), sampai tata cara merias wajah yang baik dan aman.

Dari sini kita bisa memahami bahwa gen kecantikan perempuan sebenarnya sudah terancang begitu rapi. Tinggal bagaimana cara memoles dan ‘mendidiknya’ agar gen kecantikan ini semakin kuat. Sehingga, bila sejak awal memang sudah cantik, ketika dirias dengan cara yang baik akan semakin cantik.

Penulis pun tak lupa memaparkan cara merawat diri agar tetap tampil cantik sepanjang waktu. Mulai dari pola makan yang sehat, gaya hidup yang baik, sampai kiat menjaga kesehatan tubuh dari berbagai ancaman penyakit berbahaya. Hal ini mengajak para perempuan agar waspada, bahwa kecantikan perlu perlindungan yang maksimal.

Tak ketinggal, penulis juga membahas agar kecantikan fisik diimbangi dengan kecantikan batin. Misalnya dengan mengasah jiwa melalui nilai-nilai agama agar semakin peka dengan kondisi lingkungan sekitar. Bisa jadi ini bagian yang terpenting dari seorang perempuan, karena kecantikan jiwa bisa melahirkan berbagai sikap yang positif dan bermanfaat bagi semua orang.

Dengan demikian, seorang perempuan baru bisa benar-benar disebut cantik. Kecantikan fisiknya dibarengi dengan kecantikan jiwa yang tercermin melalui perilaku yang baik. Jadi buku ini patut dimiliki karena membahas secara lengkap dari berbagai aspek tentang kecantikan seorang perempuan.

Apalagi buku ini dibuat cukup padat dengan dilengkapi berbagai data dan fakta penting dalam pembahasan setiap bab. Buku ini pun cukup interaktif dengan memuat beberapa tes sederhana dan di sampulnya ada alat ukur sederhana untuk mengetahui postur tubuh yang ideal.

Resensi Buku Islam

Resensi Buku Islam

Judul Buku : Kiat Shalat Khusyu bagi Wanita
Penulis : Syaikh Bakr Muhammad Ibrahim
Penerbit : Khansa
Tebal : 213 Halaman
Terbit : April 2009 (Cetakan III)
Harga : Rp35.000

Menghadirkan Ke-khusyu-an dalam Salat

MENGHADIRKAN hati atau khusyu ketika mendirikan salat memiliki manfaat yang besar. Karena salat merupakan sarana untuk bermunajat dan memohon pertolongan kepada Allah SWT. “Mohonlah pertolongan (kepada Allah SWT) dengan sabar dan salat. Hal itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu,” (Qs Albaqarah [2]: 45).

Ibnu Alqayyim dalam kitab Madarijus Salikin pun mendefinisikan khusyuk sebagai bangkitnya hati di hadapan Allah dengan perasaan tunduk dan hina. Ini berarti mendirikan salat dengan khusyuk atau menghadirkan hati harus sungguh-sungguh diupayakan.

Untuk membantu menghadirkan ke-khusyu-an dalam salat, buku karya Syaikh bakr Muhammad Ibrahim yang berjudul Kiat Shalat Khusyu bagi Wanita bisa dijadikan referensi bagi Anda. Dalam buku setebal 213 halaman yang diterbitkan Khansa (salah satu lini penerbitan MQS Publishing) memberikan tips-tips sederhana untuk dapat melaksanakan salat secara khusyu.

Penulis secara garis besar menjelaskan langkah-langkah mencapai ke-khusyu-an, baik sebelum dan saat melaksanakan salat. Tak ketinggalan, diulas juga makna khusyu, contoh bagaimana nabi dan para sahabat melaksanakan salat secara khusyu, serta tanda orang yang khusyu ketika melakukan salat.